Senin, 18 Januari 2021

Clip Raster Menggunakan Raster Calculator (QGIS 3.10.6)

 Bismillah...

Okay, kali ini saya akan mencoba membagikan tips sederhana bagaimana cara melakukan clipping raster menggunakan fitur raster calculator. Cara ini merupakan cara yang umum bahkan diberikan juga oleh tim pengembang qgis, klik disini. Meskipun begitu ternyata masih ada saja orang-orang yang kebingungan (seperti saya di beberapa minggu yang lalu), berikut bagaimana cara melakukan clipping raster tanpa mempunyai data vector.

Catatan: cara ini akan melakukan clipping berdasarkan nilai pada data raster itu sendiri, sehingga ini akan sangat berguna apabila kita ingin (contoh) memisahkan antara data topografi dan batimetri dari data DEM yang kita miliki. Namun tidak cocok apabila kita ingin melakukan clipping berdasarkan batas administrasi, dan lain sebagainya.

Asumsi saya disini teman-teman sudah tahu cara bagaimana mendownload data DEM dan menginputnya ke dalam lembar kerja QGIS. Untuk kesempatan ini saya menggunakan DEMNAS yang di download dari http://tides.big.go.id/DEMNAS/.


Masuk ke raster calculator, Raster - Raster Calculator



Membuat raster mask menggunakan perthitungan matematis sederhana. Dapat kita lihat DEM yang diinput memiliki nama TamanNasional_Komodo@1.
  • Asumsikan TamanNasional_Komodo@1 = a.
  • Masukkan persamaan log(a), klik log10 kemudian klik 2x pada nama layer yang DEM yang digunakan.
  • Berikan nama output layer yang diinginkan (contoh: TopoMask).


pada tahap log(a) akan menghasilkan nilai pangkatnya dalam bentuk raster, untuk batimetri yang menggambarkan kedalaman perairan mempunyai nilai elevasi negatif (di bawah permukaan laut) sehingga akan menghasilkan solusi berupa bilangan kompleks dan format ini tidak didukung sehingga akan menghasilkan no data untuk elevasi < 0 m.


Tahap selanjutnya kita akan coba mengekstrak data topografinya saja menggunkan raster mask yang telah dibuat tadi. Okey, sebut saja layer TopoMask sebagai b
  • Masuk kembali ke raster calculator.
  • Masukkan persamaan b/b*a.
  • Berikan nama output layer yang diinginkan (contoh: TopografiKomodo).

Dengan menggunakan persamaan tersebut akan terdapat dua respon
  1. untuk b yang mempunyai nilai, maka b/b akan menghasilkan nilai 1, kemudian 1*DEM = DEM (dimana a merupakan nilai elevasi dari data DEM).
  2. untuk b = nodatab/b akan menghasilkan nilai nodata maka nodata*DEM = nodata.


Apabila teman-teman ingin memperoleh data batimetrinya saja, maka dapat dilakukan dengan cara membalik nilai nya terlebih dahulu (topografi dibuat negatif) log(-a) selebihnya sama dengan cara di atas. Dengan demikian akan dihasilkan data raster batimetri dalam dengan nilai positif.

Catatan:
-Data topografi yang dihasilkan dengan cara ini akan bernilai > 0, hal ini dikarenakan pada tahap log(a) untuk a = 0, tidak terdefinisi sehingga hasilnya nodata.
-Apabila ingin melakukan clipping dengan nilai raster yang spesifik dapat digunakan cara lain seperti pada tautan berikut.
-Selalu cek tipe data raster teman-teman, apakah dalam bentuk 16-bit integer atau 32-bit float, dan sebagainya.

Kamis, 31 Desember 2020

Second Vertical Derivative (SVD) pada Metode Gravitasi gak bisa dipakai buat identifikasi struktur?

Pada tulisan kali ini saya akan sedikit membahas hal yang lebih teknis berkaitan dengan bidang keilmuan yang saya pelajari sekarang. Bagi teman-teman geophysicist atau yang masih berjuang untuk jadi geophysicist, terutama bagi yang telah menyelesaikan mata kuliah Metode Gravitasi dan Magnet (mungkin nama mata kuliah di kampus masing-masing beda-beda ya) istilah Second Vertical Derivative (SVD) merupakan sesuatu yang sudah tidak asing lagi bukan?

SVD adalah teknik yang digunakan untuk mendelineasi anomali pada data gravity (anomali Bouguer), teknik ini banyak digunakan karena kemampuannya dalam memperjelas data jika dibandingkan data anomali Bouguer itu sendiri yang biasanya cenderung smooth.

Intermeso

Sedikit intermeso mungkin. Pada november 2020 lalu, saya menerima chat dari teman ketika Kerja Praktek dulu di Pusat Survei Geologi, Bandung. Teman saya ini masih mahasiswa geofisika juga, tapi beda kampus. Intinya di chat itu teman saya ini mau persiapan untuk Seminar KP dan minta tolong kepada teman-teman KP-nya (salah satunya saya) untuk me-review hasil kerjanya. Kebetulan topik yang diambil itu merupakan metode gravity. Maka diaturlah jadwal untuk simulasi presentasi. Selesai presentasi kami berdiskusi kecil, dan pada satu momen dia bilang "... tapi ya kata Pak Grandis SVD gak bisa di pake buat struktur" (kurang lebih seperti itu redaksinya). Kalimat ini yang membuat saya terheran-heran, hasil dari diskusi pun tidak mendapatkan jawaban. Kenapa kok bisa muncul statement demikian, bahwa SVD yang umum dipakai untuk identifikasi struktur geologi justru dinyatakan sebaliknya. Pada awal Desember lalu pun saya diminta oleh adik angkatan untuk sharing mengenai analisa derivative ini. Namun pada saat itu masih pada kondisi belum menemukan jawaban terkait pertanyaan tadi. 

Sudah guratan takdir di semester 7 itu saya jadi asisten laboratorium geofisika untuk metode gravity dan magnet, diakhir semester (seperti biasanya) waktunya mengevaluasi laporan praktikan dan segala macamnya. Saya coba buka-buka kembali file-file pdf yang pernah di download dulu, buka D:\References\Journals\Metode Geofisika\Gravity dan terhenti pada file Sumintadireja, Prihadi(2018)_A Note on the Use of Second Vertical Derivative (SVD) of Gravity Data with Reference to Indonesian Cases. Hmmm... kalau tidak salah pdf ini pernah saya pakai gambarnya buat referensi di laporan awal praktikum dulu - semester 5. Dasar praktikan download jurnal cuma buat referensi di lapaw doang wkwkwk. Dan pada akhirnya Alhamdulillah dapat sedikit pencerahan.

Kurang lebih seperti itu hal yang melatarbelakangi tulisan ini, saya coba ceritakan kembali apa yang ditulis oleh Pak Prihadi, dkk. secara singkat.

SVD

Second Vertical Derivative berfungsi untuk meng-enhance fitur yang kurang tampak pada data gravity, gradien yang tinggi bisa saja berasosiasi dengan dengan perubahan sifat fisis yang kontras ataupun sebaliknya. Dengan begitu biasa digunakan untuk mendelineasi sumber anomali. SVD merupakan komponen vertical dari gz, dan dapat diperoleh dari perhitungan horizontal gradien berdasarkan persamaan Laplace.


Kriteria Bott dalam menginterpretasikan SVD

Martin Harold Phillips Bott mengusulkan kriteria untuk menginterpretasikan anomali negatif pada data gravity berdasarkan magnitudo relatif dari SVD - dibentuk semacam penampang 1 D.

Gambar 1. Respon SVD untuk anomali negatif berupa (a) cekungan sedimen dan (b) granit pluton (Sumintadireja, 2018) 
  • g''max > g''min , maka sumber anomali berupa cekungan sedimen dengan tepian miring ke dalam.
  • g''max < g''min , maka sumber anomali berupa granit pluton dengan tepian miring ke luar.

Adopsi kriteria Bott dalam menginterpretasikan SVD untuk patahan 

Kasusnya di Indonesia - khususnya, kriteria Bott ini diadopsi untuk menentukan jenis patahan. Fitur anomali yang ditunjukkan pada gambar di atas diadopsi dengan hanya mempertimbangkan satu sisi saja (menjadi model half-basin atau half-pluton) kemudian ditinjau dari magnitudo relatifnya.

  • g''max > g''min , mengindikasikan normal fault dengan dip mengarah ke bagian anomali rendah.
  • g''max < g''min , mengindikasikan reverse fault yang naik ke bagian anomali rendah.
  • g''max = g''min , mengindikasikan strike-slip fault.
Ketiga kriteria ini yang sering digunakan di kalangan mahasiswa. Sekarang coba kita lihat pada gambar 2a-d, dan gambar 3. Pada gambar 2 ditunjukkan respon SVD untuk berbagai skema perbedaan densitas dan arah dip. Gambar 2a dan 2c mempunyai skema densitas yang sama namun memiliki arah dip yang berlawanan, begitu pula untuk 2b dan 2d. Tinjau setiap profil dari kiri ke kanan, magnitude relatif dari SVD akan menunjukkan nilai positif terlebih dahulu apabila terjadi perubahan densitas dari yang lebih tinggi ke densitas yang lebih rendah, berlaku sebaliknya. Sedangkan arah dip ditunjukkan oleh perbandingan antara magnitude maximum dan minimum. Meskipun demikian hal yang harus menjadi catatan adalah dengan diketahuinya kontras densitas dan arah dip, kita tetap saja tidak dapat mengetahui displacement yang terjadi - apakah hanging wall-nya itu relatif naik atau turun terhadap foot wall.
Gambar 2. Skema hubungan antara kontras densitas dan arah dip terhadap SVD (Sumintadireja, 2018)

Gambar 3 merupakan model cekungan sedimen yang mempunyai kedalaman yang berbeda, tampak pada gambar 3a nilai anomali Bouguer berubah secara gradual, namun hal ini sulit dibedakan pada SVD. Apabila kita bandingkan gambar 1a dan gambar 3b kurva SVD memiliki kemiripan dimana ia menunjukkan respon yang signifikan pada batas-batas sumber anomali.

Gambar 3. Model cekungan sintetis dengan kedalaman yang berbeda, dari atas kebawah: peta anomali, profil anomali yang memotong bagian tengah zona anomali, dan model (a) anomali Bouguer dan (b) SVD (Sumintadireja, 2018)

Limitasi

Setelah kita amati bahwa SVD mempunyai limitasi dan hanya dapat digunakan untuk melihat kontras densitas dan juga arah dip. Sedangkan untuk identifikasi patahan yang kompleks tidak dapat dilakukan melalui SVD karena keterbatasannya untuk mengidentifikasi displacement yang terjadi - apakah ia naik atau turun. Anomali dibawah permukaan yang kompleks dan saling overlap akan menghasilkan suatu nilai resultan yang terukur sebagai anomali Boguer, teknik analisa berbasis gradien menggunakan nilai resultan ini tanpa memisahkan sumber-sumber anomali (regional dan residual) terlebih dahulu.

Kesimpulan

SVD masih dapat digunakan selama mempertimbangkan limitasi pada teknik ini. Berikut saya coba buatkan diagram alur berpikir... (Entahlah saya gak nemu istilah yang pas, alur kerja atau apalah..)
untuk melakukan interpretasi menggunakan SVD dengan mempertimbangkan limitasi teknik ini.


Dengan mengambil perspektif 1 D berupa penampang SVD
  • I.a -> Perubahan densitas dari yang lebih tinggi ke densitas rendah dengan dip mengarah pada densitas yang lebih rendah.
  • I.b -> Perubahan densitas dari yang lebih tinggi ke densitas rendah dengan dip mengarah pada densitas yang lebih tinggi.
  • II.a -> Perubahan densitas dari yang lebih rendah ke densitas tinggi dengan dip mengarah pada densitas yang lebih rendah.
  • II.b -> Perubahan densitas dari yang lebih rendah ke densitas tinggi dengan dip mengarah pada densitas yang lebih tinggi.

Mungkin sekian cerita pendek geofisika kali ini, kalau seandainya ada kritik dan saran terlebih berkaitan dengan kontennya bisa sampaikan saja langsung di kolom komentar, atau via email. Mohon maaf apabila banyak kekurangan. Sekian, terima kasih.

Reference

Sumintadireja, Prihadi., Dahrin, D., and Grandis, H. (2018). A Note on the Use of Second Vertical Derivative (SVD) of Gravity Data with Reference to Indonesian Cases. Journal of Engineering and Technological Sciences 50(1): 127-139

Senin, 15 Juli 2019

Kawah Rengganis, Alternatif Pemandian Air Panas selain Cimanggu dan Ciwalini

Libur libur libur mantap jiwa (emot nyanyi)
Liburan kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi sebuah objek wisata di daerah Rancabali/Ciwidey yang sudah ada sejak lama namun akhir-akhir ini sedang naik daun. Objek wisata ini terletak di Desa Patengan, Kec. Rancabali, Kab. Bandung. Sebagai informasi tambahan sebenarnya destinasi wisata ini secara administratif terletak di Kecamatan Rancabali, namun Ciwidey lebih populer sehingga pada umumnya orang mengetahui Rancabali hanya sebagai area perkebunan teh yang terletak di Ciwidey.
Berikut lokasi Kawah Rengganis.


 

Untuk anda yang berasal dari luar Kota Bandung, anda dapat mengambil rute Ciwidey via tol, dan keluar di Gerbang tol Soroja, Soreang. Setelah itu anda bisa lanjutkan melalui Jalan Raya Soreang-Ciwidey.

Dalam perjalanan anda akan melewati destinasi wisata unggulan di Ciwidey seperti Kawah Putih, Kampung Cai Ranca Upas, Pemandian Air Panas Ciwalini, Cimanggu, dan Glamping Lakeside Rancabali.

Jika anda telah memasuki area perkebunan teh Rancabali berarti anda sudah dekat dengan tujuan, diperlukan waktu sekitar 15-20 menit (tergantung kondisi lalu lintas)


Setelah itu anda akan melewati pertigaan dan sebuah ucapan 'selamat datang' yang dilengkapi dengan patung cangkir teh. Sekadar informasi kawasan ini merupakan kawasan penghasil 'Teh W*lini'. Ambil jalan lurus (atau lajur kiri).

Selang beberapa menit anda akan menjumpai percabangan jalan, lajur kanan menuju Situ Patenggang dan lajur kiri menuju Kawah Rengganis.


Jika anda sampai di lokasi seperti foto di atas, itu artinya anda sudah sangat dekat dengan lokasi Kawah Rengganis. Akan tetapi, percayalah setelah saya coba ikuti petunjuk arah tersebut tidak tertuju ke lokasi tujuan. Entah, mungkin area ini dipakai sebagai area parkir mobil (ketika pengunjung cukup padat) atau akan dibangun akses baru menuju kawah.

Anda cukup lurus terus ikuti jalan raya hingga terdapat sebuah warung di sebelah kiri jalan.


Akses jalan menuju kawah hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua, adapun kendaraan roda empat dapat parkir di pinggir jalan, seberang warung (terdapat area parkir walaupun sempit). 

Perjalanan selanjutnya dapat anda tempuh dengan berjalan kaki jaraknya kurang lebih 800 m, tak usah khawatir bagi anda yang tak mau berjalan kaki karena terdapat angkutan berupa ojek. Namun saya kurang tau berapa tarif normal menuju lokasi. *yang pasti pandai-pandailah bernegosiasi wkwkwk

Berikut adalah lokasi parkir bagi anda pengguna kendaraan roda dua, cukup luas dan terdapat beberapa kios penjual makanan, dan celana pendek (jika anda lupa membawa baju ganti). Biaya retribusi parkir sebesar Rp. 5000,00 dan sudah termasuk biaya masuk ke lokasi. Karena saya berkunjung pada hari keja maka pengunjung pada saat itu terhitung cukup sepi.


Berikut beberapa foto yang sempat saya ambil.







Selain fotot-foto di atas terdapat pula pemandian air panas yang langsung berasal dari sumbernya, mirip onsen di Jepang sana. Saya sengaja tidak mengambil foto di pemandian atas dasar etika.

Kurang enak lahh, orang lagi mandi di foto-foto, mana gk kenal lagi

Seperti pada lokasi wisata pada umumnya, salah satu masalah terbesar yang dihadapi ialah
SAMPAH!!!

Saya tidak akan membahas mengenai pengelolaan sampah, hanya saja saya ingin menghimbau untuk anda yang hendak berkunjung ke tempat wisata manapun "BAWA KEMBALI SAMPAH ANDA, JIKA ANDA BUKAN SAMPAH". Terkait fasilitas umum agak kurang terawat, lagi-lagi di toilet/kamar bilas terdapat sampah (seperti bungkus shampoo, dll), jembatan bambu yang sudah sedikit rapuh, mushalla yang berdebu dan sejadahnya yang sudah lama tidak dicuci *tercium dari baunya.

Sekadar informasi lokasi wisata ini dikelola oleh warga setempat, jadi saya sedikit memberikan 'kewajaran' atas kondisi tersebut. Secara keseluruhan dalam rentang 0 sampai 5, berdasarkan pengalaman saya beri nilai Kawah Rengganis 3,7.

Nahhh, tertarik untuk berkunjung destinasi wisata ini, ingat bawa kembali sampahmu.



Bandung, 25 Juli 2019
Muhammad Bani Al-Rasyid