Senin, 15 Juli 2019

Kawah Rengganis, Alternatif Pemandian Air Panas selain Cimanggu dan Ciwalini

Libur libur libur mantap jiwa (emot nyanyi)
Liburan kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi sebuah objek wisata di daerah Rancabali/Ciwidey yang sudah ada sejak lama namun akhir-akhir ini sedang naik daun. Objek wisata ini terletak di Desa Patengan, Kec. Rancabali, Kab. Bandung. Sebagai informasi tambahan sebenarnya destinasi wisata ini secara administratif terletak di Kecamatan Rancabali, namun Ciwidey lebih populer sehingga pada umumnya orang mengetahui Rancabali hanya sebagai area perkebunan teh yang terletak di Ciwidey.
Berikut lokasi Kawah Rengganis.


 

Untuk anda yang berasal dari luar Kota Bandung, anda dapat mengambil rute Ciwidey via tol, dan keluar di Gerbang tol Soroja, Soreang. Setelah itu anda bisa lanjutkan melalui Jalan Raya Soreang-Ciwidey.

Dalam perjalanan anda akan melewati destinasi wisata unggulan di Ciwidey seperti Kawah Putih, Kampung Cai Ranca Upas, Pemandian Air Panas Ciwalini, Cimanggu, dan Glamping Lakeside Rancabali.

Jika anda telah memasuki area perkebunan teh Rancabali berarti anda sudah dekat dengan tujuan, diperlukan waktu sekitar 15-20 menit (tergantung kondisi lalu lintas)


Setelah itu anda akan melewati pertigaan dan sebuah ucapan 'selamat datang' yang dilengkapi dengan patung cangkir teh. Sekadar informasi kawasan ini merupakan kawasan penghasil 'Teh W*lini'. Ambil jalan lurus (atau lajur kiri).

Selang beberapa menit anda akan menjumpai percabangan jalan, lajur kanan menuju Situ Patenggang dan lajur kiri menuju Kawah Rengganis.


Jika anda sampai di lokasi seperti foto di atas, itu artinya anda sudah sangat dekat dengan lokasi Kawah Rengganis. Akan tetapi, percayalah setelah saya coba ikuti petunjuk arah tersebut tidak tertuju ke lokasi tujuan. Entah, mungkin area ini dipakai sebagai area parkir mobil (ketika pengunjung cukup padat) atau akan dibangun akses baru menuju kawah.

Anda cukup lurus terus ikuti jalan raya hingga terdapat sebuah warung di sebelah kiri jalan.


Akses jalan menuju kawah hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua, adapun kendaraan roda empat dapat parkir di pinggir jalan, seberang warung (terdapat area parkir walaupun sempit). 

Perjalanan selanjutnya dapat anda tempuh dengan berjalan kaki jaraknya kurang lebih 800 m, tak usah khawatir bagi anda yang tak mau berjalan kaki karena terdapat angkutan berupa ojek. Namun saya kurang tau berapa tarif normal menuju lokasi. *yang pasti pandai-pandailah bernegosiasi wkwkwk

Berikut adalah lokasi parkir bagi anda pengguna kendaraan roda dua, cukup luas dan terdapat beberapa kios penjual makanan, dan celana pendek (jika anda lupa membawa baju ganti). Biaya retribusi parkir sebesar Rp. 5000,00 dan sudah termasuk biaya masuk ke lokasi. Karena saya berkunjung pada hari keja maka pengunjung pada saat itu terhitung cukup sepi.


Berikut beberapa foto yang sempat saya ambil.







Selain fotot-foto di atas terdapat pula pemandian air panas yang langsung berasal dari sumbernya, mirip onsen di Jepang sana. Saya sengaja tidak mengambil foto di pemandian atas dasar etika.

Kurang enak lahh, orang lagi mandi di foto-foto, mana gk kenal lagi

Seperti pada lokasi wisata pada umumnya, salah satu masalah terbesar yang dihadapi ialah
SAMPAH!!!

Saya tidak akan membahas mengenai pengelolaan sampah, hanya saja saya ingin menghimbau untuk anda yang hendak berkunjung ke tempat wisata manapun "BAWA KEMBALI SAMPAH ANDA, JIKA ANDA BUKAN SAMPAH". Terkait fasilitas umum agak kurang terawat, lagi-lagi di toilet/kamar bilas terdapat sampah (seperti bungkus shampoo, dll), jembatan bambu yang sudah sedikit rapuh, mushalla yang berdebu dan sejadahnya yang sudah lama tidak dicuci *tercium dari baunya.

Sekadar informasi lokasi wisata ini dikelola oleh warga setempat, jadi saya sedikit memberikan 'kewajaran' atas kondisi tersebut. Secara keseluruhan dalam rentang 0 sampai 5, berdasarkan pengalaman saya beri nilai Kawah Rengganis 3,7.

Nahhh, tertarik untuk berkunjung destinasi wisata ini, ingat bawa kembali sampahmu.



Bandung, 25 Juli 2019
Muhammad Bani Al-Rasyid

Senin, 27 Agustus 2018

What's is Gheophysic???

Pernah denger kata 'Geofisika'? Pasti seringlah, apalagi kalau ada bencana alam seperti gempa. Mau tau apa itu geofisika? Cekidot!


Berikut ini merupakan tulisan ketiga saya di blog ini setelah sekian tahun lamanya tidak meninjau kondisi blog saya ini. Sebelum itu, izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Saya merupakan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran. Sesuai dengan judul yang tertera di atas, tentu saja saya merupakan mahasiswa jurusan geofisika.

apa sihh geofisika itu?
apa bedanya dengan geologi?
penerapannya di kehidupan sehari-hari gimana?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, simak penjelasan singkat berikut ini.
Kata geofisika itu sendiri tersusun dari dua kata, 1) "geo" dan 2) "fisika". Geo berarti bumi sedangkan fisika, hmmm... ya itulah fisika. Secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bumi melalui kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Informasi yang digunakan adalah besaran-besaran fisis (seperti: kemagnetan batuan, gaya berat, resistivitas, dan yang lainnya). Namun di sini saya tidak akan membahas mengenai satu per satu definisi dari besaran-besaran tersebut.

Sedangkan menurut Santoso (2002) Geofisika berasal dari kata geo, yang artinya bumi, dan fisika. Dari akar keilmuannya sendiri, geo berasal dari kata geologi. Jadi, geofisika ialah ilmu yang menerapkan prinsip-prinsip fisika untuk mengetahui dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan bumi, atau dapat pula diartikan mempelajari bumi dengan menggunakan prinsip-prinsip fisika.

Berikut akar keilmuan yang dimaksud.






Akar Keilmuan Geofisika (Santoso, 2002)

Geofisika itu merupakan sebuah ilmu terapan. Diterapkan terhadap apa? Tentu anda sudah punya jawabanya, jelas objeknya ialah bumi. Pada perkembangannya geofisika tidak hanya digunakan untuk mempelajari planet bumi melainkan digunakan pula untuk mempelajari struktur bulan salah satunya.
Agar lebih mudah dipahami kita analogi seperti ini.

ilustrasi USG (sumber: tempo.co)

Yupp USG..
Kalian pasti mengetahui USG yang digunakan untuk memeriksa kondisi janin ibu hamil,
USG (Ultrasonografi) memanfaatkan gelombang dengan frekuensi tinggi untuk mengetahui kondisi kandungan ibu hamil. Objeknya ialah perut ibu hamil, tujuannya mengetahui isi kandungan.
Sama halnya dengan ilmu geofisika, hanya berbeda objek dan tujuannya saja, pada ilmu geofisika yang menjadi objek ialah bumi dengan tujuan yang bermacam-macam, bisa untuk mengetahui struktur penyusun lapisan bumi, mineral, migas, ataupun air tanah.
ilustrasi survei seismik (sumber: rambuenergy.com)

Lalu, apa perbedaannya dengan geologi???
Membedakan geofisika dan geologi tidak semudah membedakan minyak dan air karena pada dasarnya ketika anda kuliah di geofisika, anda harus mempelajari prinsip-prinsip dasar geologi. Begitu pula geologi (berdasarkan penuturan beberapa teman saya), di geologi pun anda akan mempelajari geofisika. Perbedaannya hanya terletak pada pendalamannya saja, yang khas dari geofisika adalah penggunaan besaran-besaran fisis sebagai sebagai data untuk mempelajari bumi, sedangkan geologi mengandalkan pengamatan dan pengukuran secara langsung terhadap singkapan batuan.

Adapun untuk aplikasinya salah satu metode geofisika yaitu geolistrik dapat digunakan untuk pendugaan air tanah, dan eksplorasi mineral. Sedangkan seismik biasa digunakan untuk eksplorasi migas. Mungkin untuk aplikasi dalam kehidupan sehari-hari hanya itu yang bisa saya sampaikan, namanya juga masih tingkat awal. Kurang bijak rasanya saya memaparkan aplikasi geofiisika sedangkan saya sendiri belum mendalaminya.

Sekian,
Salam geoscientist


Pustaka
Santoso, Djoko. 2002. Pengantar Teknik Geofisika. Bandung: Penerbit ITB

Rabu, 24 Februari 2016

Mizwala Qibla Finder

Hahh Mizwala???

Bismillah...
Akhirnya ada juga kesempatan buat corat-coret di blog saya ini.
Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan sedikit informasi tentang mizwala.

HAHH MIZWALA??? APA ITU MIZWALA???

Awalnya pertanyaan tersebut sempat muncul di benak saya ketika ustadz (guru) di sekolah saya memberikan tugas agar mencari hal-hal yang berkaitan dengan mizwala mencakup 5W+1H.
Ok, langsung saja kepada pembahasan!!!

   Mizwala pada dasarnya adalah sebuah sundial (bahasa arab: mizwala, bahasa indonesia: bencet/jam matahari). Sundial, merupakan penunjuk waktu berdasarkan posisi matahari. Alat ini terdiri dari 3 komponen utama, yaitu:

  1. Gnomon  sebagai pembentuk bayangan
  2. Bidang dial sebagai tempat bayangan
  3. Kurva waktu sebagai penanda waktu dari bayangan yang dibentuk gnomon pada bidang dial
  Sundial sendiri dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk: Sundial horizontal, sundial vertikal, sundial polar dan sundial silinder.

Kalo mau tahu gimana bentuknya, apa saja fungsi dari masing-masing sundial googling sendiri biar ada usaha!!!

   Mizwala qibla finder (lebih sering disebut Mizwala saja) ditemukan oleh Hendro Setyanto M.Si pada muktamar NU ke XXXII tahun 2010. Alat ini ditemukan ketika ia memberikan pelatihan pengukuran arah kiblat di Makassar. Perangkat ini merupakan modifikasi dari tongkat istiwa' hal yang dimodifikasi adalah:
  1. Menjadikan bidang dial sebagai bidang dial putar
  2. Menambahkan skala 360 derajat pada bidang dial putar
  3. Menambahkan bidang dudukan sebagai pengatur (level) mizwala
Katanya sundial tapi kok tongkat istiwa'??? Maksudnya seperti ini, mizwala merupakan sundial karena sama-sama memiliki 3 unsur utama sundial (gnomon, bidang dial dan kurva waktu) serta memanfaatkan bantuan sinar matahari untuk membuat bayangan. Sedangkan, dikatakan modifikasi dari tongkat istiwa' pada awalnya perangkat/instrumen yang digunakan untuk menunjukkan arah kiblat adalah tongkat istiwa', 'benang merah' antara tongkat istiwa' dengan mizwala adalah sama-sama perangkat yang berfungsi untuk menunjukkan arah kiblat
  Secara sederhana, alat ini dibuat untuk memudahkan umat muslim dalam menunjukkan arah kiblat yang tidak dapat dipisahkan dari ibadah shalat.

  CARA PEMAKAIAN
  • Pastikan MIZWALA dipasang dengan benar dan mengatur kedatarannya (menggunakan waterpass)
  • Cara pemakaian MIZWALA dikelompokkan menjadi dua;
  • Contoh, Diketahui bahwa azimuth kiblat sebuah kota X adalah 294° (dapat dihitung atau diambil dari data yang ada), kemudian azimuth bayangan ketika pengukuran adalah 145° (diketahui dari tabel posisi matahari)

  • Cara pertama (C1)


C1.1 - Perhatikan bayangan yang dibentuk oleh gnomon kemudian letakkan benang pada bayangan tersebut

C1.2 - Putar bidang dial sehingga skala 145° ada pada benang




C1.3 - Pindahkan benang pada skala 294° yang merupakan azimuth kiblat